Lewati ke konten utama
Menu navigasi

Panduan

Apa Saja yang Perlu Disiapkan Sebelum Membuat Website Bisnis?

Bingung mulai dari mana sebelum membuat website bisnis? Simak hal yang perlu disiapkan, mulai dari tujuan, profil usaha, foto, dan kontak hingga domain.

Muhammad Rayhan Pendiri Jajan Web

Diterbitkan
Diperbarui
Diperbarui
Waktu baca
± 11 menit baca
Tangan menulis daftar periksa di buku catatan bergaris kotak.
Foto: Glenn Carstens-Peters / Unsplash (tab baru)
Daftar isi · 7 bagian
  1. Mulai dari tujuan dan calon pengunjung
  2. Kumpulkan informasi dan materi usaha
  3. Pastikan kontak dan lokasi jelas
  4. Catat kebutuhan halaman dan fitur
  5. Pikirkan domain, anggaran, dan waktu
  6. Daftar cek sebelum konsultasi
  7. Ringkasan

Sebagai pemilik usaha, mungkin Anda pernah bertanya-tanya seperti ini:

  • Kalau ingin membuat website, materi apa saja yang perlu saya siapkan?
  • Apakah semuanya harus lengkap sebelum saya menghubungi penyedia jasa pembuatan website?
  • Bagaimana kalau logo, foto, atau deskripsi usaha saya belum siap?

Kalau iya, Anda tidak sendirian. Membuat website memang melibatkan banyak hal sekaligus, mulai dari informasi usaha, foto, dan kontak hingga domain, sehingga wajar bila Anda bingung harus mulai dari mana. Kabar baiknya, Anda tidak perlu menyiapkan semuanya dengan sempurna. Yang lebih penting adalah Anda tahu mana yang sudah ada, mana yang masih perlu disiapkan, dan mana yang bisa didiskusikan bersama penyedia jasa pembuatan website. Mari kita pilah satu per satu, dimulai dari hal yang paling menentukan: tujuan website Anda.

Mulai dari tujuan dan calon pengunjung

Sebelum sibuk memilih warna atau mengumpulkan foto, coba tanyakan dulu kepada diri Anda: website ini ingin Anda gunakan untuk apa? Apakah untuk memperkenalkan usaha, memamerkan hasil pekerjaan, menampilkan katalog, atau agar calon pelanggan lebih mudah menghubungi Anda? Jawaban inilah yang nantinya menentukan isi, susunan halaman, hingga fitur website Anda. Itulah sebabnya, pilih satu tujuan yang paling penting terlebih dahulu.

Setelah Anda menentukan tujuan, jangan lupa juga membayangkan siapa sebenarnya yang paling mungkin membuka website Anda. Apakah orang-orang di sekitar tempat usaha Anda? Pelanggan dari luar kota? Kelompok usia tertentu? Atau justru orang yang memang sedang mencari produk seperti milik Anda? Setiap kelompok pengunjung punya kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kenali calon pengunjung Anda baik-baik agar Anda lebih mudah menyusun isi website.

Agar lebih terbayang, mari kita coba satu contoh sederhana. Bayangkan Anda adalah pemilik usaha katering rumahan. Anda ingin lebih banyak warga sekitar memesan masakan Anda. Kira-kira, apa yang pertama kali mereka cari saat membuka website Anda? Kemungkinan besar daftar menu, pilihan paket, foto makanan, dan wilayah pengantaran, lalu tombol untuk langsung bertanya. Jadi, yang Anda butuhkan adalah informasi yang jelas dan kontak yang mudah ditemukan, bukan sistem pemesanan yang rumit.

Tentu, kebutuhan usaha Anda bisa saja berbeda. Kalau Anda belum yakin jenis website apa yang paling cocok, cukup catat tujuannya dulu, karena pilihan jenis website bisa Anda diskusikan nanti. Sebagai gambaran awal, Anda juga bisa melihat contoh jenis website untuk berbagai kebutuhan bisnis.

Kumpulkan informasi dan materi usaha

Setelah tujuan dan calon pengunjung tergambar, kini saatnya Anda mengumpulkan bahan untuk isi website. Coba posisikan diri Anda sebagai calon pelanggan yang baru pertama kali mengenal usaha Anda: apa yang ingin Anda ketahui sebelum memutuskan untuk membeli? Biasanya, Anda ingin tahu siapa pemilik usahanya, apa yang ditawarkan, dan mengapa usaha itu layak dipercaya. Calon pelanggan Anda pun begitu. Untungnya, sebagian besar jawabannya sudah sering Anda sampaikan setiap kali melayani pelanggan.

Profil, produk, dan layanan

Mulailah dari informasi dasar tentang usaha Anda. Agar mudah diserahkan nanti, kumpulkan bahan-bahan berikut dalam satu catatan:

  • Nama usaha dan penjelasan singkat tentang apa yang Anda kerjakan.
  • Produk atau layanan utama, beserta manfaatnya bagi pelanggan.
  • Harga, pilihan paket, atau cara meminta penawaran, jika memang ingin ditampilkan.
  • Ketentuan pemesanan, seperti jumlah minimal atau batas waktu pemesanan.
  • Portofolio, pengalaman, atau informasi pendukung lain yang benar-benar dapat dibuktikan.

Bagaimana kalau deskripsi usaha Anda belum tersusun rapi? Anda tidak perlu menunggu sampai sempurna. Tuliskan saja apa adanya dalam beberapa kalimat sederhana. Untuk usaha katering tadi, misalnya, deskripsinya bisa seperti ini:

Kami menerima pesanan katering untuk acara keluarga di wilayah X. Pilihan menu dan jumlah porsi dibicarakan sebelum pemesanan.

Kalimat sesederhana itu sudah cukup sebagai bahan awal. Susunan kalimatnya bisa dirapikan bersama nanti, selama fakta dasarnya tetap sama.

Logo dan foto

Selain informasi tertulis, website Anda juga membutuhkan materi visual. Coba cek dulu: apakah Anda sudah memiliki logo? Kalau sudah, siapkan versi yang paling jelas, idealnya file asli dari pembuatnya (misalnya SVG, AI, atau PDF) atau PNG berlatar transparan. Bila logo Anda dulu dibuat oleh desainer, jangan ragu meminta file aslinya, karena hasilnya jauh lebih tajam daripada tangkapan layar. Namun, kalau file seperti itu belum ada, Anda tetap bisa mulai berkonsultasi.

Lalu, bagaimana dengan foto? Di sini, keaslian lebih penting daripada kesan mewah. Foto produk, tempat usaha yang boleh ditampilkan, proses kerja, atau hasil pekerjaan Anda sendiri akan lebih meyakinkan calon pelanggan. Foto dari HP pun bisa dipakai, selama gambarnya terang, fokus, dan sesuai keadaan sebenarnya. Sebaliknya, hindari foto yang bisa membuat pengunjung mengira itu produk atau karya Anda, padahal bukan.

Satu hal lagi yang jangan sampai terlewat: pastikan Anda memiliki hak atau izin untuk memakai setiap logo dan foto yang akan ditampilkan. Kalau foto yang tersedia belum memadai, catat saja sebagai materi yang perlu disiapkan agar kekurangannya bisa dilengkapi selama proses pengerjaan.

Contoh website dan gaya tampilan

Pernahkah Anda membuka sebuah website lalu langsung merasa cocok dengan tampilannya? Perasaan seperti itu ternyata bisa menjadi bahan yang berharga. Anda memang tidak perlu merancang tampilan sendiri, tetapi gambaran tentang selera Anda akan sangat membantu proses desain. Coba siapkan beberapa hal berikut:

  • Dua atau tiga website yang Anda sukai, beserta alasannya, misalnya karena rapi, mudah dibaca, atau fotonya menonjol.
  • Warna, logo, atau gaya yang sudah Anda pakai di kemasan, papan nama, atau media sosial usaha Anda.
  • Alamat website lama, jika ada, beserta bagian yang ingin Anda pertahankan atau ubah.

Hanya saja, contoh-contoh tersebut bukan untuk ditiru, melainkan sebagai acuan kesan. Dari situ, penyedia jasa pembuatan website bisa menangkap gaya yang Anda sukai, lalu menyesuaikannya dengan karakter pelanggan Anda.

Pastikan kontak dan lokasi jelas

Semua materi tadi pada akhirnya bertujuan membuat calon pelanggan tertarik. Lalu, apa yang biasanya mereka lakukan setelah tertarik? Tentu saja menghubungi Anda. Coba bayangkan kembali usaha katering Anda: seseorang sudah memilih menu, menekan tombol WhatsApp, lalu mendapati nomornya tidak aktif. Sayang sekali bila kesempatan seperti itu hilang begitu saja, bukan? Karena itu, pastikan nomor WhatsApp atau kontak lain yang Anda cantumkan aktif dan memang digunakan untuk melayani pertanyaan.

Selain kontak utama, periksa juga informasi yang menjelaskan cara Anda melayani pelanggan:

  • Alamat email usaha, jika ada.
  • Alamat tempat usaha dan petunjuk lokasi, jika pelanggan memang dapat datang langsung.
  • Tautan Google Maps atau profil bisnis Google, jika sudah ada.
  • Wilayah layanan atau pengantaran, jika Anda melayani pelanggan tanpa lokasi kunjungan.
  • Jam operasional atau perkiraan waktu Anda membalas pesan.
  • Akun media sosial yang masih aktif.

Pastikan informasi ini sama di website dan di profil bisnis Anda yang lain. Informasi yang lengkap dan seragam bukan hanya memudahkan calon pelanggan, tetapi juga membantu usaha Anda ditemukan lewat pencarian, termasuk pencarian AI seperti ChatGPT. Penjelasannya bisa Anda baca di artikel cara agar bisnis Anda mudah ditemukan AI.

Perlu diingat juga, Anda tidak wajib menampilkan alamat rumah atau alamat pribadi hanya karena memiliki usaha. Cukup tampilkan informasi lokasi yang memang perlu diketahui pelanggan dan aman untuk dipublikasikan.

Sebelum menyerahkan materi, cobalah menghubungi nomor kontak tersebut dari HP lain, lalu periksa kembali penulisan alamat serta setiap tautannya. Pemeriksaan singkat ini bisa mencegah calon pelanggan gagal menghubungi Anda setelah website terbit.

Catat kebutuhan halaman dan fitur

Setelah bahan isi dan kontak terkumpul, Anda bisa mulai memikirkan cara menyusun semua informasi itu. Tenang, pada tahap ini Anda belum perlu menggambar tata letak atau memahami istilah teknis. Cukup jawab satu pertanyaan: kalau Anda menjadi pengunjung, informasi apa yang paling ingin Anda temukan lebih dulu?

Untuk membantu Anda menjawabnya, pemetaan sederhana berikut bisa menjadi titik awal:

Kebutuhan pengunjung Konten atau bagian website
Ingin mengenal usaha Profil singkat dan informasi usaha
Ingin melihat penawaran Daftar produk atau layanan
Ingin menilai hasil kerja Portofolio atau contoh pekerjaan yang nyata
Ingin bertanya Kontak dan cara menghubungi usaha
Punya pertanyaan berulang Tanya jawab singkat, jika diperlukan

Bagian-bagian tersebut tidak harus menjadi halaman terpisah. Bagi sebagian usaha, satu halaman yang tertata rapi sudah cukup, sedangkan bagi usaha lain, halaman khusus produk atau layanan justru lebih memudahkan pengunjung.

Prinsip yang sama juga berlaku untuk fitur. Sebelum tergiur menambahkan semuanya, coba tanyakan kepada diri Anda: fitur mana yang benar-benar Anda butuhkan sekarang, dan mana yang bisa menunggu? Tombol WhatsApp, formulir pertanyaan, katalog, pemesanan online, dan pembayaran digital memiliki fungsi, tingkat kerumitan, serta biaya yang berbeda. Karena itu, pilihlah fitur berdasarkan tujuan usaha Anda, bukan karena website lain memilikinya.

Pikirkan domain, anggaran, dan waktu

Sekarang kita masuk ke bagian yang sering terdengar paling teknis. Jangan khawatir, hal yang perlu Anda siapkan sebenarnya cukup sederhana. Mari kita mulai dari domain.

Domain adalah alamat yang diketik orang untuk membuka website Anda, misalnya namausaha.id. Karena nama yang paling Anda inginkan bisa saja sudah dipakai pihak lain, siapkan dua atau tiga alternatif yang mudah diucapkan, mudah ditulis, dan langsung mengingatkan orang pada usaha Anda.

Selain ketersediaan nama, Anda juga perlu tahu bahwa setiap akhiran domain memiliki aturan pendaftaran sendiri. Domain berakhiran Indonesia (.id, .co.id, .my.id, dan lainnya) dikelola oleh PANDI, dan beberapa di antaranya meminta dokumen. Misalnya, .co.id diperuntukkan bagi usaha berbadan hukum sehingga memerlukan dokumen legalitas usaha. Sementara itu, domain internasional seperti .com mengikuti ketentuan ICANN untuk pendaftar domain. Untuk persyaratan pastinya, Anda bisa menanyakannya kepada penyedia domain sebelum membeli.

Di samping itu, Anda tidak perlu terburu-buru membeli domain. Yang justru lebih penting adalah memastikan sejak awal, terutama bila pembeliannya dibantu pihak lain, siapa yang tercatat sebagai pemilik domain, siapa yang memegang akses pengelolaannya, dan siapa yang bertanggung jawab memperpanjangnya. Dengan begitu, kendali atas alamat website usaha Anda tetap jelas.

Lalu, apa itu hosting? Jika domain ibarat alamat, hosting ibarat bangunannya, yaitu tempat file website Anda disimpan agar bisa dibuka melalui internet. Anda tidak harus memilih penyedia hosting sebelum konsultasi, karena pilihannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan website, cara pemeliharaan, dan biaya yang disepakati. Kalau kedua istilah ini masih terasa asing, Anda bisa membaca penjelasan lengkapnya di artikel apa itu domain dan hosting.

Terakhir, coba pikirkan gambaran awal tentang tiga hal berikut:

  • Anggaran: berapa kisaran dana yang nyaman Anda alokasikan, termasuk biaya rutin seperti perpanjangan domain dan hosting, jika ada.
  • Waktu: kapan Anda ingin website mulai digunakan, dan adakah momen tertentu yang ingin dikejar, seperti pembukaan cabang atau musim ramai pesanan.
  • Penanggung jawab: siapa di pihak usaha Anda yang akan mengirim materi, memeriksa isi, dan menyetujui hasil.

Anggaran dan waktu ini tidak harus langsung berupa angka atau tanggal pasti. Kisaran saja sudah cukup membantu untuk menentukan lingkup pekerjaan dan prioritas bersama.

Daftar cek sebelum konsultasi

Setelah melalui semua langkah di atas, sekarang saatnya Anda merangkum persiapan. Salin tabel berikut ke catatan Anda, lalu isi sesuai keadaan usaha Anda saat ini:

Kelompok Yang perlu Anda catat
Sudah ada Nama usaha, daftar produk atau layanan, materi foto/logo yang tersedia, kontak aktif, dan contoh website yang disukai.
Perlu disiapkan Deskripsi yang belum lengkap, foto tambahan, rincian layanan, atau informasi yang perlu diperiksa kembali.
Bisa didiskusikan Jenis website, susunan halaman, gaya tampilan, fitur prioritas, domain, hosting, anggaran, dan jadwal pengerjaan.

Ingin catatan yang lebih ringkas? Anda cukup menjawab enam pertanyaan berikut sebelum berbicara dengan penyedia jasa pembuatan website:

  1. Apa nama usaha Anda, dan apa produk atau layanan utamanya?
  2. Apa satu tujuan terpenting dari website Anda?
  3. Siapa calon pengunjung yang ingin Anda jangkau?
  4. Materi apa yang sudah tersedia dan apa yang belum?
  5. Bagaimana pelanggan nantinya menghubungi usaha Anda?
  6. Berapa kisaran anggaran Anda, dan kapan Anda ingin website mulai digunakan?

Tidak apa-apa bila belum semua pertanyaan bisa Anda jawab. Tandai saja bagian yang belum pasti, karena justru bagian itulah yang paling perlu dibahas saat konsultasi.

Catatan yang sama juga berguna kalau Anda ingin mencoba membuat website sendiri dengan bantuan AI. Semakin jelas bahan yang Anda siapkan, semakin jelas pula instruksi yang bisa Anda berikan kepada AI. Langkah-langkahnya bisa Anda ikuti di panduan cara membuat website dengan AI.

Ringkasan

Jadi, dari mana Anda akan memulai? Kalau Anda sudah membaca sampai di sini, sebenarnya Anda sudah memegang kerangkanya: tujuan yang jelas, informasi dan materi usaha, contoh tampilan yang Anda sukai, kontak yang aktif, kebutuhan halaman, serta gambaran anggaran dan waktu. Urusan teknis seperti domain dan hosting pun bisa menyusul setelah kebutuhan Anda lebih jelas.

Ingat, persiapan yang baik tidak menuntut semuanya sempurna. Selama Anda tahu apa yang sudah ada, apa yang perlu disiapkan, dan apa yang bisa didiskusikan, website Anda bisa dibangun dari kebutuhan usaha yang nyata. Mulailah dengan satu langkah kecil hari ini: buka catatan Anda, lalu jawab pertanyaan kedua dari daftar cek di atas, yaitu apa satu tujuan terpenting dari website Anda.

Setelah tujuan Anda mulai jelas, biasanya muncul pertanyaan berikutnya: bentuk website seperti apa yang paling pas? Apakah cukup satu halaman yang fokus pada satu penawaran, atau Anda membutuhkan website yang memperkenalkan usaha secara menyeluruh? Kalau Anda penasaran, lanjutkan dengan membaca perbedaan company profile dan landing page agar Anda lebih mantap menentukan pilihan.

Tag

  • Persiapan
  • Dasar website
  • UMKM
  • Konten

Bagikan artikel ini

Bagikan sebagai gambar

Pratinjau gambar bagikan: Apa Saja yang Perlu Disiapkan Sebelum Membuat Website Bisnis?

Ukuran Story (9:16), cocok untuk Story Instagram dan Status WhatsApp.

Simpan gambar

Ditulis oleh

Muhammad Rayhan

Pendiri Jajan Web

Muhammad Rayhan adalah pendiri Jajan Web, agensi jasa bikin website untuk UMKM dan bisnis. Selain merancang website, ia aktif berbagi panduan praktis seputar teknologi web dan digitalisasi bisnis.

Baca juga

Penulis: Muhammad Rayhan Tanggal terbit: Kategori: Panduan

Punya Rencana Membuat Website untuk Bisnis Anda?

Ceritakan kebutuhan usaha Anda melalui WhatsApp. Kami bantu menentukan jenis website dan kebutuhan yang paling sesuai.

Konsultasi via WhatsApp (tab baru)

Tidak harus sudah memahami hal teknis.

Konsultasi via WhatsApp (tab baru)